Hitam yang memutih

Jumat, 26 Agustus 2011

Introspeksi Diri

Kali ini saya mau sharing masalah sudut pandang. Tulisan ini terinspirasi dari teman saya sendiri, sebut saja namanya Ani (bukan nama sebenarnya). Saya dan Ani adalah teman dan sedikit banyak saya sudah tau sama sifatnya. Terus ada apa dengan Ani?? Saya sama sekali ga bermaksud men"judge" si Ani ya, saya juga belum tentu lebih baik dari Ani, tapi mari belajar dari kehidupan orang lain atau sekedar mengambil hikmahnya aja.

Gini ni ceritanya, temen saya Ani sekarang tinggal jauh dari saya, di lingkungan baru gitu lah, kebetulan saya punya facebooknya dia. Iya, memang status di FB itu suka" dan bebas, itu ga masalah dan tergantung dari pribadi masing". Status" si Ani ini menurut saya menarik, akhirnya saya amati sampai beberapa lama.

Apa yang dapat saya ambil setelah mngamati status Ani? Ani sering sekali buat status yang mengeluhkan lingkungannya dan temen"nya. Dia sering bilang dihianati, di tusuk dari belakang, dikucilkan, bahkan sering ngatain orang bermuka dua, munafik dan sebagainya. Ngeri juga ya hidup temen saya ini??saya jadi ngebayangin betapa ga enaknya hidup di lingkungan dia sekarang. Pertamanya saya ngerasa simpati, dan sedikit kasian sama dia, tapi setelah lama" saya pikir kok semakin aneh. Aneh gimana??ya jelas aja aneh, dia dulu pas masih temenan sama saya juga sering mengeluh kaya gitu, aneh kan? Saya jadi berpikir dua kali untuk kasian atau simpati ke Ani. Kenapa??jahat banget ya saya, ya karena saya jadi berfikir, dia diperlakukan oleh teman dan lingkungannya yang menurut dia begitu kejam pasti kan ada alasannya. Coba kita berfikir kembali, apa bener yang salah itu temen" dan lingkungan Ani??atau malah sebaliknya??

Ya begitulah, bisa disimpulkan sendiri. Jangan sampai kita terlalu sibuk menyalahkan teman, orang lain atau lingkungan, sementara permaslahan itu sebenernya datangnya dari diri kita sendiri. Apakah saya juga sudah bener? Sama sekali belum, saya juga belajar dari kehidupan orang lain.

Orang lain, temen dan lingkungan akan berprilaku baik kepada kita apabila kita juga baik terhadap mereka, begitu pula sebaliknya. Mari sama" introspeksi diri.

End

Minggu, 21 Agustus 2011

Curhat

Aku ingin menghilang,,,,

Ku benamkan ragaku pada segumpal asap hitam yang memekat, hingga ku temukan lorong sempit yang pengap,,,,,

Untuk apa aku di situ?

Aku mencari tikus curut bau yang setia pada curhatanku, aku akan menangis menggebu sampai semua maslahku terasa berlalu,,,,

End

Teruntuk Dirimu

Teruntuk pemberi genku,,,

Tidakkah kau lihat bahagiaku?iya, bahagiaku pada dirimu,,,,

Tidakkah kau tau kemana aku menuju? sungguh lemah kakiku kuseret menuju tempatmu,,,,

Jika senyummu adalah dukaku, sungguh akan ku bayar dengan duka yang memilu,,,

Jika dukamu adalah darahku, pasti akan kucurkan darahku ini demimu,,,

Tapi lihatlah pemberi genku, lihat jauh ke dalam jiwaku,,,

Apakah kau dapat melihat cahaya di dalamnya??

Lihatlah sebuah jiwa yang membiru, layu, membeku,,,

Haruskah aku berpura-pura bahagia demimu?

Jumat, 19 Agustus 2011

Kurang Kerjaan

Sudah enam jam aku duduk di kursi plastik hijau di depan meja kasir, ternyata waktu begitu cepat mengejarku. Mulai merasa bosan dengan pembeli yang tak muncul lagi, sepi itu mulai menggelitik desingan waktu ini. Bersih-bersih udah, milihin telur yang busuk udah, nambahin dagangan yang kosong udah, angakatin galon n tabung gas udah, ngapain lagi ya??

Mulai celingukan kurang kerjaan, aku dengar ada sepeda motor parkir di depan, pasti ada orang beli. Aku mulai penasaran, dengan cepat aku berdiri dan bertanya-tanya dengan sosok yang datang. Yaaah,,,,,,ternyata orang kantor depan toko yang numpang parkir.
Huftt,,,(duduk lagi sambil manyun)

Aku masih menunggu,,,,,

Tik,,,,tok,,,,,15 menit berlalu,,,

Tik,,,,tok,,,,,tik,,,,tok,,,,30 menit berlalu,,,,,,

Waaa,,,,aku dengar jejak langkah kaki yang menghentak mantap dari kejauhan, pasti ini langkah bapak kantor depan yang pakai sepatu pikirku. Aku sapa dengan penuh semangat, gigi-gigiku mulai menyeringai bak serigala yang melihat mangsanya.

"mbak beli amplop, berapa harganya?"

"Rp 200 pak, mau beli berapa?" aku jawab dengan sumringah dan tetap aku tunjukkan senyum termanisku pada pembeli, seperti biasanya.

"satu saja mbak" klinting,,, sambil meletakkan satu buah koin putih Rp 200 di hadapanku sambil berlalu. Aku hanya bisa senyum geli, nyengir pengen ketawa..

Bukan karena bapaknya, tapi ketawa dengan tingkahku sendiri yang lucu.

Tau gitu tadi aku senyumnya ga usah manis-manis banget pak,,,,wakakakakakakak,,,,,,aku terbahak sendiri dalam kesendirianku,,,,,,

End

Kamis, 18 Agustus 2011

Lirik Lagu "Ku Temukan Penggantinya" (Winda)

Lagi suka sama lagunya Winda,,,liriknya juga daleem bgt,,,,
Pas sama moodku saat ni,,,
Ini niih:

Sebuah kisah tertulis indah di masa lalu,
tak teraba oleh hati siapapun.
Hingga kau hadir dengan segala kelemahanmu,
cacat hidupmu menyempurnakanku.

Kesakitanku bertambah pahit,
ketika harus aku akui.
Aku menahan rasa cintaku untukmu,
namun kau tetap ada.

Kau hadir dalam bayangan yang tak pernah ku anggap,
kau ada di dalam bayangan semu.
Kau merindu dan buatku jatuh kepadamu,
kau menyayangku dan buatku berkata "ku temukan penggantimu".

Selasa, 16 Agustus 2011

Pekerjaan Semua Orang adalah Pensejahtera Sesama

Apa pekerjaan kamu?? Guru? penyiar radio?photographer?direktur?manager?pedagang mungkin?atau penyanyi? Karena saya pengangguran dan belum punya kerjaan, kebetulan saya jadi punya kerjaan mengamati pekerjaan orang lain. Kurang kerjaan bgt ya saya?? Ya itulah pkerjaan saya, pekeraja yang kurang kerjaan,,,

Menurut semua pekerjaan yang saya amati di sekitar lingkungan saya, ternyata semua pekerjaan itu memiliki satu tujuan yang sama, kalau bahasa kerennya yang biasa di ucapin sama pak Mario Teguh tujuan utama orang bekerja adalah "mensejahterakan sesamanya". Sungguh mulia ya ternyata oarang2 yg bekerja tu,,,

Keliatannya sih, secara ga sadar para pekerja tadi terlihat sangat egois bekerja untuk mencukpi kebutuhan keluarganya masing", atau malah cuma kebutuhan pribadinya sendiri, terlihat ga peduli dengan kehidupan orang lain. Padahal ni yaa,,,kalo mereka sadar, bagi yang belum sadar lho yaa,,,apapun pekerjaan mereka ternyata memberikan arti bagi kehidupan orang lain. Contohnya saja ya, pedagang asongan yang ngrela"in bawa barang dagangannya kesana kemari, sampe naik ke angkutan umum juga, buat apa to?memudahkan para pembelinya kan?dan secara ga langsung juga mensejahterakan sesamanya, itu kalo menurut saya.

Apa pentingnya saya nulis kaya gini ya?? Siapa tau setelah baca jd ada yg ngerasa kasian sama saya dan ngasih saya kerjaan,,,,(ngarep,,,hehehe,,)

Mari bekerja sebaik"nya sesuai dengan pekerjaan dan bidang kita masing". Selain kebutuhan secara finansial akan tercukupi, ternyata secara sosial kita dapat mensejahterakan sesama. Luarr biasaa,,,,,

End

Senin, 15 Agustus 2011

Antara Saya dan Biologi

Apa itu Biologi?? Biologi terdari dari dua kata "bios" yang artinya hidup dan "logos" yang artinya "ilmu", itu sii menurut buku yg pernah saya baca, dan kata dosen saya biologi tu ilmu yg mempelajari tentang kehidupan dan keseluruhan proses maupun interaksi yang ada di dalamnya. Banyak cabang ilmu yg ada di biologi, misalnya aja zoologi (ilmu yg mempelajari tentang hewan), botani (ilmu yg mempelajari tentang tumbuhan), histologi (mempelajari tentang jaringan), ekologi (ilmu yg mempelajari tentang makhluk hidup dan interaksinya dg alam), dll. Banyaaak bgt yg bisa diceritain tentang "biologi" dan ga akan ada habisnya.

Minggu, 14 Agustus 2011

Saya HIDUP dengan cara,,,

Manusia diciptakan dengan ribuan karakter yang berbeda, memang perbedaan itu kadang terlihat sangat menyebalkan. Tetapi bayangkan saja kalo semua orang punya karakter yang sama, dan pasti akan punya kesenangan yang sama, ga bisa dibayangkan betapa membosankannya hidup ini, lurus aja kaya kereta api, ga kreatif, ga ada gregetnya.

Hal" tersebutlah yang menurut saya akan membuat manusia menjalani hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan saya, saya memiliki hidup yang paling menarik, paling seru, paling lucu versi saya sendiri loh,,,,bagaimana dengan kehidupan kamu?? Yah, kehidupan saya mirip" sinetronlah kata temen" saya,,,gimana ga dikatain mirip sinetron, banyak konfliknya masalah cinta, persahabatan, kerjaan,dll. Ya mungkin ga beda jauh dari kehidupan" orang lain, tetapi menurut saya, saya tetap memiliki kehidupan yang unik dan ga dimiliki orang lain.

Bagaimana menariknya kehidupan saya mungkin akan saya bahas dilain waktu, yang perlu saya tegaskan adalah saya mnjalani hidup dengan cara saya sendiri. Cara yang kaya gimana??ya yang sesuai dangan kata hati saya. Walaupun saya manusia yang biasa aja, ga pinter or ber IQ tinggi, tapi saya tetap punya prinsip kehidupan. Bukannya sok" agamis, tapi prinsip hidup saya yang pertama adalah semua untuk mencari rido Allah SWT, walaupun saya jga ga pernah lepas dr kesalahan dan dosa yg dilarangNya, yang ke dua adalah orang tua. Segala hal yang saya lakukan saya prioritaskan untuk kebahagiaan orang tua saya. Kalau keduanya sudah menjadi prioritas utama saya dalam menjalani hidup, yang ketiga adalah obsesi pribadi saya sendiri, yaitu berupa jiwa yang punya tujuan, kesenangan, dan keyakinan.

Kenyataan yang saya hadapi sekarang ternyata jauh berbeda dari konsep dan prinsip yg sudah saya rancang, kadang saya memiliki tujuan, keinginan dan keyakinan yang jauh berbeda dari yang orangtua inginkan. Apakah ini berarti sebuah akhir??dan pertanda bahwa Allah juga tidak mengiyakan keyakinan saya???wallahualam,,,,

Walaupun tidak sesuai dg prinsip saya yang pertama, bukan berarti saya melanggar konsistensi yg sudah saya buat lho,bagaimana menurut kamu??bagaimana bisa begitu??saya tetap "ngeyel" dengan mempertahankan prinsip tapi juga tetap tidak akan melepaskan keyakinan saya. Bagaimana caranya??saya akan tetap mempertahankan keyakinan dengan cara membuktikan kepada prinsip hidup saya "Allah SWT" dan "orang tua" bahwa keyakinan yang saya ambil ini adalah benar.

Yaa,,,,begitulah saya dan cara saya menghidupkan kehidupan saya sendiri. Bagaimana cara hidup kamu??

End.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bapak Menyebalkan?


Siang itu aku duduk sendirian di kursi paling kiri diantara sederet kursi-kursi kosong. Udara terasa sangat panas, ditambah lagi sekarang bulan puasa. Tak banyak orang di sini, ada bapak bertubuh kurus berkulit hitam mengkilat dengan kemeja merah mudanya yang mulai memudar dan sedikit terlihat kusut tak disetrika. Bapak itu duduk di atas tumpukan batu, menunggu dengan tatapan tajam ke arah jalan raya sebelah utara, tak pernah dipalingkan pandangannya walaupun sesekali berdiri sambil meluruskan kakinya yang mulai pegal. Sudah dua kali aku dikagetkan oleh anak kecil yang keluar dari toko di belakang tempat dudukku yang berlari sambil membawa sepotong es krim coklat yang mulai meleleh.
Sudah dua jam aku menunggu di tempat ini, masih ditemani bapak bertubuh kurus yang memberi kode dengan tangan kananya kepada setiap supir bus yang lewat. Sesekali bapak itu diberi selembar kertas berwarna hijau lusuh ketika ada penumpang yang naik. Langsung saja sang bapak memasukkan kertas itu ke dalam sakunya.
Datang seorang pria bertubuh tinggi ceking memakai pakaian hijau yang rapi, di balik topi baret yang dikenakannya terlihat kepalanya gundul tak berambut. Pria itu berdiri di bawah pohon di depan tempat dudukku, badannya serong ke arah barat laut sambil menengokkan kepalanya ke arah utara. Ada kursi di dekatku, tapi pria itu saya rasa tidak ingin duduk, padahal sudah lebih dari setengah jam pria itu berdiri. Tubuhnya yang tegap terlihat sudah terbiasa berdiri lama.
Mungkin sudah kesebelas kalinya aku ditanya oleh kondektur bus kota yang berhenti sejenak di hadapanku, semuanya aku tolak. Waktu sudah semakin siang, dan akupun mulai khawatir bus yang biasa membawaku pulang ke kampung halaman sudah tidak lewat lagi. Aku mulai kepanasan, ku pindahkan kursi plastik itu ke dekat pohon di samping kiriku. Tidak bisa aku bayangkan betapa kusutnya wajahku waktu itu. Tak lama kemudian bus yang ketigabelas kalinya berhenti tak jauh dari tempat dudukku. Seorang pria bertubuh tinggi besar berperut buncit dan berkumis tebal keluar dari pintu bus dan mulai melangkahkan kakinya ke arahku. Bisnya kosong, hanya ada supir bus dan satu penumpang yang duduk di dekat pintu bus.
“mau ke mana mbak?” bapak itu tiba-tiba mengagetkanku dengan suaranya yang galak.
“Ngrayun pak”
“ikut saya saja mbak sampai ke Bungkal, bus Ngrayun sudah habis, mana ada bus ke sana jam segini”
bapak itu melontarkan kata dengan nada tinggi dan gaya seperti penagih hutang kelas kakap. Aku hanya tersenyum sebagai tanda penolakan. Terlihat wajahnya mulai gusar melihat penolakanku, tak ada senyum sekali pada wajahnya, alisnyapun malah mulai menukik ke tengah menatapku dengan tatapan tajamnya.
“busnya masih lama mbak”
Aku masih tetap tersenyum sambil menatap wajah bapak yang makin garang itu. Ada sedikit rasa takut, yang aku sembunyikan, aku mencoba untuk tetap tenang. Tidak lelah juga bapak itu merayuku, malah berdiri sambil meletakkan kedua tangannya dipinggang seakan menatang, tetapi matanya tak lagi mentap tajam ke arahku, matanya seperti menerawang jauh entah kemana. Wajahnya kian gusar ketika sudah sepuluh menit berdiri di sampingku dan tak ada satu penumpangpun yang datang. Akupun juga mulai kelelahan, sudah dua jam lebih menunggu. Aku juga bukan tipe orang yang sabar, tapi sabar adalah sebuah pilihan, aku memilih belajar untuk bersabar.
Sudah lima belas menit berlalu setelah bapak kondektur gendut tadi bersamaku. Untuk terakhir kalinya bapak itu menanyaiku dan aku tetap menolaknya hingga bapak itu dengan senyum kesalnya melangkah ke dalam bus dan buspun melaju dengan membawa satu penumpang. Aku tersenyum melihat bapak itu, tak ada sedikitpun rasa jengkel atau marah dengan tingkahnya yang memaksaku. Dalam hatiku berkata, aku tidak tersenyum karena lucu, justru anganku mulai melayang membayangkan jika aku yang berada pada posisinya. Panas yang terik, menahan haus dan lapar, sedangkan bus sangat sepi penumpang. Mungkin saja aku akan lebih garang dan lebih menyebalkan dari bapaknya. Itulah kehidupan, kadang kita harus mencoba untuk membayangkan posisi orang lain untuk bisa mengerti. Bapak yang terlihat menyebalkan itu belum tentu benar-benar menyebalkan. End.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Aku pemain Sinetron?

Kelucuan hidup yang menggelikan, membuatku tertawa terbahak hingga terjungkal, dengan kebodohan dan keluguan yang aku lakukan. Ya, sepenuhnya aku menyadarinya. Kadang aku seperti artis di acara sinetron yang setiap hari tayang di layar televisi, bagaimana tidak....hampir setiap datang kesedihan aku menangis dengan begitu lucunya. Sebuah tangisan yang sia-sia tapi begitu melegakan hati,,,,Tapi aku tetap mencoba untuk menjadi sebaik-baik diriku sendiri, walaupun penuh kelucuan yang memalukan.